Berita Utama

Kisah Siti Aminah, Tenaga Kesehatan Puskesmas Sembuh dari Wabah Virus Corona

AMUNTAI, klikkalsel.com – Siti Aminah, seorang tenaga kesehatan (Nakes) yang bekerja di UPT Puskesmas Rawat Inap Alabio Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Siti Aminah merupakan 1 dari 26 pasien yang sembuh melawan ganasnya wabah virus Corona (Covid-19). Ia bercerita ketika terpapar usai melaksanakan tugas jaga di Puskesmas Alabio bertepatan pada hari Raya Idul Fitri, karena selepas kerja merasakan demam, badan panas dan lesu.
Kemudian, ketika Pemkab HSU melaksanakan pemeriksaan rapid test masal di kalangan Nakes seluruh Puskesmas di Kabupaten HSU, ia bersama 11 rekan kerjanya di Puskesmas Alabio hasilnya reaktif.
Baca Juga : Calon Petahana Rawan Salah Gunakan Wewenang di Masa Pandemi Covid-19
Berlanjut hasil pemeriksaan swab test, ternyata 12 petugas kesehatan di Puskesmas Alabio menunjukan hasil Positif Covid-19, termasuk dirinya.
“Kami semua, kecuali satu orang, langsung dibawa ke Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes Banjarbaru untuk menjalani perawatan dan karantina,” katanya.
Menurut pengakuannya, ia bersama beberapa orang lainnya saat dirawat di Bapelkes Banjarbaru yang disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 tidak ada perlakuan medis.
“Setiap harinya kami selalu mengikuti kegiatan yang dilaksanakan seperti senam pagi, mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi tinggi, serta istirahat yang nyaman, kami juga tetap masih bisa berkomunikasi dengan keluarga,” ujarnya.
Setelah mengikuti seluruh kegiatan saat karantina, akhirnya saya dinyatakan sembuh setelah dilakukan swab tes, dan saya bisa berkumpul dengan keluarga serta dapat beraktivitas seperti biasa yang tentunya harus tetap menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan Covid-19.
Melihat aktivitas Aminah sebagai Nakes (Perawat), rasanya sesuatu yang luar biasa dirinya terpapar Covid-19, mengingat selama menjalankan tugas, dirinya selalu mengutamakan keselamatan kerja dengan mematuhi protokol kesehatan.
“Saya sempat terkejut dan tidak percaya setelah tahu hasil rapid dan swab tes yang telah dilakukan beberapa saat lalu,” ungkapnya.
Dikatakannya, sebagai Nakes (Perawat) tugasnya memang bersentuhan langsung dengan pasien, bahkan terhadap pasien rawat inap, kadang harus memberikan suntikan obat dan membersihkan darah.
“Bermacam-macam perasaan ada di diri saya, namun saya sadari mungkin ini adalah risiko yang harus saya terima karena pekerjaan ini menuntut saya harus berinteraksi secara langsung,” tuturnya.
Dirinya menyadari keadaannya saat itu, yang berdampak bagi psikologinya karena harus terpisah dengan keluarga selama di isolasi, meski selama menjalani perawatan, dirinya selalu mendapat dukungan moral dari keluarga juga dari teman-teman sejawat, sehingga menambah tekadnya untuk sembuh demi keluarga.
“Saya harus meninggalkan keluarga yang selama ini selalu bersama, dan harus berpisah untuk beberapa waktu, ada juga perasaan was-was, apakah keluarga saya juga terpapar akibat saya, bagaimana anak-anak tanpa saya, itu yang selalu terpikirkan,” terangnya.
Atas kejadian yang dialaminya tersebut, dirinya mengharapkan agar seluruh masyarakat tidak menganggap remeh Covid-19, sehingga mengabaikan protokol kesehatan.
Dirinya juga berharap masyarakat peduli akan kesehatan diri sendiri dan keluarga dengan menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat, selalu memakai masker ketika beraktivitas, selalu mencuci tangan dan menjaga jarak apabila berinteraksi.
“Saya tidak ingin ada lagi korban-korban lainnya disebabkan perilaku yang tidak mempedulikan kesehatan diri sendiri,” tukasnya.(doni)
Editor : Amran
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top