Kesehatan

Rahasia Guru Zuhdi Ketika Sakit

Oleh: Kadarisman
(Penikmat Kajian-Kajian Guru Zuhdi, Tinggal di Tabalong)

Masyarakat Banua kembali tersentak. Khabar mengejutkan berpulangnya KH Ahmad Zuhdianor atau akrab disapa sebagai Guru Zuhdi sontak membuat warga Kalimantan Selatan khususnya merasa kehilangan.

Ulama yang disebut-sebut sebagai pewaris dan penerus keilmuan Guru Sekumpul ini dipanggil Sang Pemiliknya. Meninggalnya Guru Zuhdi menambah deretan panjang daftar ulama besar Kalimantan Selatan yang berpulang di saat-saat masyarakat terlanjut jatuh cinta.

Berpulangnya kiyai kharasmatik ini ini jelas sangat mengejutkan. Pasalnya Guru Zuhdi tidak terbilang lama mengalami sakit dan dirawat di rumah sakit. Banyak jamaah yang tidak percaya, namun sesaat kemudian harus menelan kegetiran bahwa Khabar tentang sang guru benar adanya.

Kekagetan ini sangat wajar dirasakan warga Banua. Padahal selama ini Guru Zuhdi sama sekali tak pernah menampakkan dirinya sedang menderita apapun. Bawaannya yang selalu berhias senyum dan bahagia tetap melayani umat seperti biasanya. Cepatnya Guru Zuhdi berpulang, sudah pasti menyisakan kesedihan Banua.

Bagi warga Banua meninggalnya ulama, jelas sebuah kehilangan. Sejatinya bukan kali ini saja masyarakat Kalsel merasa terpukul. Pada tahun 2005, keberpulangan KH Zaini Abdul Ghani, Guru Sekumpul membangkitkan ingatan betapa kaum muslimin pada saat ini tak ubahnya dengan perasaan di 15 tahun yang lalu. Terlebih Guru Zuhdi memiliki kemiripan-kemiripan yang kemudian didentikkan senagai kiyai yang mewarisi ilmu Guru Sekumpul.

Tepat di bulan yang sama dengan meninggalnya Guru Zuhdi, warga Banua juga pernah kehilangan ulama besar lainnya setahun lalu, yakni KH Arifin Ilham. Ulama asal tanah Banjar yang berdakwah di tanah rantau itu juga telah mengharu biru perasaan umat Islam secara umum.

KH Arifin Ilham dan KH Ahmad Zuhdianor sama-sama meninggal pada bulan Mei yang terpaut tanggal. Selain terpaut tanggal juga terpaut umur yang berdekatan. Jika KH Arifin Ilham berpulang di usia 49 tahun, Guru Zuhdi di usia 48 tahun.

Berbeda dengan KH Arifin Ilham yang sempat dirawat cukup lama dan bolak balik Jakarta -Penang , Penang – Jakarta. Guru Zuhdi tak mengalami perawatan yang lama. Perbedaan keadaan itu yang kemudian memberi efek kejut luar biasa, sehingga masyarakat tak lagi terbendung membanjiri sekadar untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhir. Tak lagi mereka peduli dengan PSBB yang berlaku di Banjarmasin. Ketika cinta telah berpaut, maka bahasa hati lah yang kemudian dapat disandingkan denga kebijaksanaan bagaimana keadaan kemudian dikendalikan.

Rahasia Sang Guru

Guru Zuhdi salah satu ulama Banjar yang kharasmatik. Kajian-kajiannya banyak menyisipkan bahasa-bahasa Qaulun Mahabbah. Materinya sarat dengan ketauhidan, pemurnian bertuhan di dalam menyikapi berbagai problema kehidupan.

Banyak rahasia-rahasia ketauhidan yang yang ia singkap dalam bahasa yang sederhana. Misalnya bagaimana sikap seseorang ketika ia sedang mengalami sakit. Jika seseorang paham dan mengerti tentang hakikat sakit, maka cukuplah itu baginya tanpa ia berhasrat untuk meminta kesehatan.

Orang yang menderita sakit, lalu ia berdoa agar didatangkan kesembuhan, berarti seseorang itu belum lagi paham dan mengerti atas makna kenapa Allah timpakan sakit atasnya.

Di sini kemudian ilmu menjadi penting agar dapat menjawab setiap masalah kehidupan. Kalau diri seseorang sakit maka jawaban baginya adalah paham dan mengerti, karena kesembuhan hanyalah efek kecil kemampuannya mebuka hikmah dan kebaikan, sehingga lapang dadanya.

Orang yang paham dan mengerti ketika sakit dan berobat sejatinya bukan karena ingin mencapai kesehatan, tetapi karena menjalankan perintah Allah. Pada keadaan demikian, maka seseorang tidak lagi menyimpan lelah, keluh dan resah, karena sakit adakah jawaban masalah dan kehidupan itu sendiri.

Belajar mengerti tentang Tuhan akan membuat manusia pandai meminta dengan Allah. Dengan belajar mengerti tentang Allah, akan membebaskan manusia dari rasa tersiksa. Tidak ada kebahagian di luar dari kemampuan memahami cara Allah menyayangi diri.

Ada satu kutipan mutiara hikmah yang selalu saya ingat dari Guru Zuhdi:

“Kekayaan yang paling haikiki adalah ketika Allah dan rahmat-Nya muncul dalam pandangan hati. Tak ada yang berharga dari itu. Kalau sudah muncul rasa di hati bahwa Allah sangat sayang bahkan terlalu sayang akan diri kita, itulah kekayaan yang paling bahagia. Karena itu di manapun kita berada akan selalu senang dan gembira. Selalu gembira dan bahagia.”

Itulah kalimat ilmu yang tertancab di hati. Kalimat-kalimat tauhid yang dibungkus bahasa tasawuf amat renyah. Tapi habis sudah kesempatan untuk berjumpa.

Itulah yang menjadi rahasi Guru Zuhdi, kenapa selama ini tak pernah tampak ia mengeluh didera sakit. Behkan boleh jadi sakit yang dideritanya sudah terbilang lama, tetapi ia selalu tampak oleh mata tiap orang dalam kesahajaan yang mesra.

Ucapanya teduh. Apa yang disampaikannya benar-benar suara qalbu. Dakwahnya penuh cinta. Lalu tak salah jika kemudian ribuan orang telah jatuh cinta kepada Sang Guru.

Inilah sebuah rahasi ilmu. Rahasia ini dapat kita teladani dalam arungi problema kehidupan dan dinamikanya, apapun permasalahanya. Fokuslah kepada Allah bukan pada masalahnya. Jika kita fokus ke Allah, maka Allah yang akan menyelesaikan tiap masalah kita.

Kini, Allah telah meminta kembali, Guru yang dicintai itu. Innalillahi wainnailahirojiun. Terimakasi atas setiap ilmu. Tiap kata kebaikan semoga menjadi jariah. Guru pergi di ketika banyak dari jamaah masih belum mampu menjadi hamba Allah. Hamba sebenar hamba.

Guru Zuhdi telah tiada
Tapi warisannya jadi penerang semesta
Tumbuh di ribuan pemilik dada
Tertanam bahasa-bahasa cintanya.

Dialah pemilik Qaulun Ma’rufa
Dialah penebar Qaulun Karima
Dialah penyampai Qaulan sadida
Dialah penanam Qaulan mahabbah

Bahasanya lahir dari hati
Dakwahnya menebar cinta sejati
Hingga orang tak sadari
Masuk ke dalam tasawuf yang hakiki
Karena tertanam tauhid teramat tinggi
Dialah permata cinta yang dirindui

Cinta melahirkan cinta
Ia tercipta dari Yang Maha Cinta
Ketika ia kembali atas nama cinta
Berlinang air mata para pecinta.

Selamat jalan Guru, Sang Permata Banua!**

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top